Home About Us ministries care & Prayer study center media giving Contact Us Contact Us
Study Center
Article
Daily Devotional
Daily Confession
Salvation
Bible Reading Plan

ARTICLE

» back to list
Apakah Engkau Penatalayan yang Setia?
By Dr. Paul Sene
Sering orang bertanya kepada saya bagaimana caranya menerima berkat keuangan dari Tuhan. Mereka mengatakan bahwa mereka telah memberi persembahan kepada gereja dan setia melayani Tuhan, tetapi mereka tetap hidup kekurangan. Biasanya hambatan atas berkat keuangan itu adalah karena mereka tidak menjadi seorang penatalayan yang baik dalam keuangan dan tidak bijaksana dalam mengatur keuangan yang Tuhan percayakan kepada mereka.

Sebagai anak-anak Tuhan, kita merasa bahwa kita seharusnya diberkati; kita telah menanam begitu banyak dalam pelayanan Tuhan, dalam pemberian misi dan bagi pekerjaan Tuhan. Kita merasa kitalah yang menentukan apa yang akan kita lakukan dengan uang yang telah diberikan Tuhan. Semuanya ini baik dan benar. Namun demikian ada beberapa hal yang perlu kita pikirkan. Pertama, Tuhanlah yang memberi kemampuan kepada kita untuk memperoleh kekayaan. Yang kedua, kita semua dipanggil untuk menjadi penata layannya Tuhan. Yang ketiga, kita adalah saluran berkat Tuhan.

Mari kita mulai dengan melihat ayat dalam Perjanjian Lama.

Kejadian 2:15
TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.


Setelah menciptakan Adam, Tuhan memberikannya tanggung jawab atas Taman Eden. Tugas Adam adalah mengelola dan bekerja keras untuk taman itu, mengurus, mengerjakan dan memelihara termasuk menabur benih, menanam dan menuai hasil tanaman. Itulah sebabnya sampai hari ini setiap orang di dunia diberikan tanggung jawab untuk menjadi seorang penata layan yang mengusahakan dan memelihara semua milik Tuhan.

Mari kita lihat ayat-ayat dalam Perjanjian Baru.

1 Petrus 4:10
Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.


Kata ‘penata layan’ berasal dari kata ‘oikonomos’. Bahasa aslinya adalah ‘oikos’ yang artinya rumah dan ‘nemo’ yang artinya mengatur. Kata ini aslinya mengacu kepada seorang kepala urusan rumah tangga atau perkebunan. Selanjutnya istilah ini berkembang dalam arti yang lebih luas menjadi pengatur atau penata layan secara umum. Dalam 1 Petrus 4:10, kata ini ditujukan kepada seluruh pengikut Kristus agar menggunakan seluruh karunia yang dipercayakan kepada mereka dari Tuhan demi menguatkan dan mendukung sesama orang percaya (dikutip dari New Spirit Filled Bible).

Lukas 12:42-43
42 Jawab Tuhan: “Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya?
43 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.”


Sebelum ayat-ayat di atas, Yesus sedang berbicara kepada murid-muridNya tentang kedatanganNya yang kedua kali. Saat itu Dia menekankan tentang pentingnya untuk selalu berjaga-jaga dan giat bekerja di ladang Tuhan serta mengatur dengan baik segala yang Tuhan telah percayakan kepada mereka. Banyak orang menganggap remeh kedatangan Tuhan yang kedua kalinya, seakan-akan hal itu tidak akan terjadi di masa mereka hidup. Itu sebabnya, mereka menganggap remeh tanggung jawabnya dan hidup semaunya saja di dunia ini. Mudah bagi banyak orang termasuk hamba-hamba Tuhan untuk menikmati milik Tuhan yang dipercayakan kepada mereka selagi Dia pergi. Tidak salah jika kita menikmati apa yang telah Tuhan berikan bagi kita tetapi ingatlah selalu rencana Tuhan dalam pikiran kita. Yesus pasti akan datang kembali dan Anda sudah tentu tidak ingin didapati belum bersiap atau tidak menghasilkan. Kita tahu hak istimewa yang agung ini membawa cobaan dan tanggung jawab yang besar pula. Karena itu kita melakukan segala sesuatu di dunia ini dengan berpikir akan kekekalan dan kepastian kedatanganNya. Ingat, kitalah penata layan Tuhan.

Kita lihat bahwa seorang penata layan adalah seseorang yang mengurus kepentingan orang lain. Seorang penata layan bukanlah pemilik. Dia hanyalah seorang pekerja atau pengawas.

Dia harus memakai tenaga, kemampuan dan segenap tanggung jawab yang telah dipercayakan kepadanya sesuai dengan kepentingan dan kerinduan sang pemilik dengan segenap hati dan selalu memusatkan perhatian kepada hal tersebut. Apapun pekerjaan, tugas dan tanggung
jawab kita di gereja, rumah maupun kantor, kita harus setia dan selalu dapat dipercaya. Kita menunaikan tugas dengan baik dan menggunakan talenta, mengelola waktu, sumber daya serta segala sesuatu yang Tuhan telah percayakan kepada kita. Kita tidak boleh menyalahgunakan wewenang, orang-orang, keuangan, kepercayaan maupun waktu. Seorang penata layan yang setia dan bijaksana dikenal melalui ketaatan, kesetiaan dan sikap mereka yang dapat dipercaya (Lukas 12 : 42).
Konsep lain dari seorang pemimpin sebagai “penata layan” haruslah “didapati setia”, “tak bercacat” dan menunjukkan kepekaan yang kudus dalam mengelola “kasih karunia Tuhan” (1 Korintus 4:2, Titus 1:7, dan 1 Petrus 4:10).

1 Korintus 4:1-2
1 Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.
2 Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.


Pelayan Tuhan adalah penata layan dalam rumah Tuhan yang dipercaya untuk mengurus jemaat. Sebagai penata layan, pelayan Tuhan mempunyai wewenang sepenuhnya dan bertanggung jawab hanya kepada Tuhan karena tugasnya adalah mengurus jemaat Tuhan atau kawanan domba dengan penuh ketulusan dan kebenaran di dalam kasih dan keadilan. Pada saat yang sama, para pelayan Tuhan atau hamba Tuhan harus menggenapi visi yangTuhan telah berikan baik untuk hidup mereka maupun gereja.

Yusuf (Kejadian 39-41) adalah salah satu contoh penata layan yang terbaik di dalam Alkitab. Dia adalah seorang yang :
1. Setia dalam perkara kecil (Kejadian 39:22)
2. Setia dalam perkara besar (Kejadian 41:48-49)
3. Adil dalam perkara kecil maupun besar
(Kejadian 41:54-57)
4. Setia dalam mengelola kekayaan (Kejadian 41:56)
5. Setia terhadap apa yang menjadi milik orang lain
(Kejadian 41:48)

Jelasnya, apapun jabatan dan tanggung jawabnya, kita semua adalah penata layan, yang merupakan suatu panggilan yang umum dan kekal. Saat kita menyadari pentingnya menjadi penata layan Tuhan, kita akan menganggap serius apapun yang dipercayakan Tuhan kepada kita.

Kita semua berada di dunia ini untuk mengelola sumber-sumber kehidupan bagi kemuliaan Tuhan dan untuk menggenapi rencana dan tujuanNya. Mengelola sumber-sumberNya mencakup segala sesuatu mulai dari yang jasmani, keuangan sampai perkara rohani.

Lukas 16:10-13
10 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
11 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan memperca-yakan kepadamu harta yang sesungguhnya?
12 Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?
13 Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak
mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”


Kita semua akan diuji untuk melihat apakah kita seorang penata layan yang setia. Jika sebelumnya kita seorang penata layan yang setia, maka kita harus tetap setia sampai akhir. Kita harus belajar untuk tidak memandang rendah perkara-perkara kecil dalam hidup kita. Kita tidak perlu menunggu hingga memiliki jabatan kepemimpinan yang tinggi atau kekayaan yang berlimpah untuk menjadi setia. Kita dapat menjadi setia sekarang dalam perkara kecil.

Yesus mengatakan bahwa orang-orang dunia sangat cerdik dalam memenuhi kebutuhan demi keuntungan dan kesenangan mereka sendiri. Sebaliknya, orang percaya justru tidak berpikir cukup rohani untuk memakai harta kekayaan dunia untuk kepentingan rohani mereka. Orang berpikiran duniawi seringkali mengandalkan ketidakadilan, keserakahan dan kuasa dalam menimbun dan menggunakan kekayaan. Bagaimanapun juga, orang percaya harus menggunakan kekayaan dan keuangan untuk kepentingan Tuhan dan menyelamatkan orang lain.

Bagaimana kita dapat menilai bahwa kita adalah penata layan yang baik? Cara yang terbaik untuk kita menilai apakah kita telah menjadi seorang penata layan yang baik adalah dengan melihat bagaimana cara kita mengelola keuangan maupun harta kita. Bahkan Yesus sendiri menggunakan uang sebagai contoh untuk mengukur apakah seseorang telah menjadi penata layan yang baik. Bagaimana kita mengelola keuangan menentukan sikap kita terhadap uang. Sikap kita terhadap uang akan menyatakan penundukan diri kita terhadap Tuhan. Tentu saja, sikap tunduk atau pemberontakan kita terhadap Tuhan akan memberikan dampak terhadap bagaimana cara mengumpulkan kekayaan dan menggunakannya. Benarkah itu? Ya! Dari pengajaran tentang ‘perkara kecil’ dan ‘perkara besar’ Yesus melanjutkan dengan menyebut tentang tidak setia kepada “Mamon yang tidak jujur” atau uang. Dari situ timbulah sebuah pertanyaan, “Siapa yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Itu sebabnya ‘perkara kecil’ adalah uang dan ‘perkara besar’ adalah harta sesungguhnya.

Sepertinya Yesus menyatakan bahwa mereka yang ti-dak setia dalam mengelola pendapatan dan pengguna-an harta duniawi akan sama saja saat mengendalikan hal rohani. Dengan kata lain, bagaimana seseorang mengelola ‘perkara kecil’ akan menunjukan bagaimana dia mengelola ‘perkara besar’. Jika seseorang sangat buruk dalam mengelola keuangan, sangat sukar untuk mempercayainya dengan kekayaan rohani. Itulah sebabnya kita semua perlu dibebaskan dari cinta akan uang (1 Timotius 6:10). Kita sedikitpun tak mungkin dipercaya sedikitpun sampai kita menjadi setia dalam penggunaan uang. Masalah uang itu cukup pelik dan terkait dengan kehidupan kita. Saat Anda berbicara tentang pekerjaan, pendidikan, pakaian, rumah, kebutuhan sehari-hari, alat transportasi, pergi berlibur dan lain-lain, semuanya ini melibatkan uang. Padahal uang itu perkara kecil dalam panggilan kesetiaan kita. Jika kita tidak setia dalam keuangan, siapa yang akan mempercayakan kita harta sesungguhnya?

Tuhan sudah mempercayakan banyak hal kepada anak-anakNya. Dia telah melimpahkan anugerah dan karunia ilahi ke atas kita. Dia memenuhi hati kita dengan kasihNya. Dia telah memberikan kita otoritas dan kuasa. Dia mengurapi kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaanNya. Dia memberikan kita kemampuan untuk menghasilkan kekayaan. Tuhan ingin agar kita setia terhadap SEMUA yang telah Dia berikan kepada kita agar kita dapat menggenapi panggilanNya.

Kita akan selalu diuji ketika berurusan dengan uang. Ketika Anda mengalami krisis keuangan dan sumber-sumber Anda menipis, Anda sudah menghadapi ujian Anda. Anda akan tergoda untuk menahan pemberian kepada Tuhan atau mungkin bertanya kepada diri sendiri mengapa harus memberi perpuluhan kepadaNya karena Dia pasti mengerti masalah Anda. Ingatlah, inti kehidupan bukanlah kepemilikan karena segala sesuatu adalah milik Tuhan. Kita tidak memiliki apapun, sehingga saat Tuhan meminta kita untuk melepaskan sesuatu, kita sanggup melepaskannya karena segala sesuatu adalah milik Tuhan. Banyak orang bergumul dalam hal-hal tersebut karena mereka menyangka bahwa semuanya itu kepunyaan mereka. Saat Tuhan meminta mereka untuk memberi kepadaNya, mereka mengeluh karena merasa mereka kekurangan.

Uang memiliki kekuatan yang menggoda. Semakin banyak yang kita dapatkan semakin kita menginginkannya! Siapakah tuan Anda, Tuhan atau uang? Saat menghadapi masalah, seberapa baikkah Anda dapat dipercaya? Apakah kita menjadi tidak benar dan tidak setia kepada atasan atau kepada keluarga dengan menyalahgunakan waktu, uang atau bahkan jabatan? Apakah Anda mau mengendalikan uang atau uang yang mengendalikan Anda? Dengan bisa dipercaya dalam keuangan berarti kita membuka pintu untuk kekayaan rohani lebih lagi.

Saudara, bagaimana kita mengelola keuangan hanyalah merupakan salah satu aspek yang dapat memperlihatkan apakah kita seorang penata layan yang baik atau tidak. Sudah jelas dikatakan bahwa tidak mungkin untuk mengabdi kepada dua tuan: Tuhan atau kekayaan. Jika kita mengabdi pada Tuhan, kita menjadi bijaksana dalam menggunakan uang karena kita mengelola uang tersebut bagi kemuliaanNya. Di lain pihak, jika kita setia kepada kekayaan, pada akhirnya kita pasti akan melayani uang karena uang telah menjadi tuan kita.

Di atas semuanya ini, Tuhan mengharapkan kita untuk menjadi orang yang bertanggungjawab dan setia atas segala sesuatu yang telah Dia percayakan kepada kita. Oleh sebab itu, saya mendorong Anda untuk lebih berkomitmen, setia dan bertanggungjawab dalam setiap area hidup Anda dan membuktikan diri sebagai seorang penatalayan yang baik dan setia.