Home About Us ministries care & Prayer study center media giving Contact Us Contact Us
Study Center
Article
Daily Devotional
Daily Confession
Salvation
Bible Reading Plan

ARTICLE

» back to list
Mimbarmu
By Dr. Paul Sene

Roma 12:1
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Tuhan sangat berbelas kasih kepada kita dan sudah seharusnyalah jika kita menanggapinya dengan pantas. Perhatikan, hidup kita harus kudus bagi Tuhan dan jika motivasi kita adalah melayani Tuhan di dalam pekerjaan ataupun di mimbar yang Tuhan telah berikan kepada kita maka apapun yang kita lakukan itu tidak akan sia-sia.

Apapun bidang pekerjaan yang merupakan panggilan Tuhan dalam hidupmu – tukang kayu, perawat, petugas keamanan, dokter, petani, guru, dll. BUKANLAH HANYA sekedar sebuah mimbar untuk menghasilkan uang maupun kesuksesan secara materi saja. Itu adalah sebuah mimbar dimana tujuan Tuhan dapat digenapi. Pekerjaan anda adalah sebuah mimbar tempat anda dapat mencerminkan Kristus dalam dunia usaha. Keterikatan kita, etos kerja, serta bagaimana kita menggunakan keahlian secara produktif di dunia usaha merupakan cerminan dari keterikatan kita terhadap firman Tuhan. Jadi sasaran utama kita ialah bukan hanya bekerja untuk menghasilkan uang tetapi untuk membawa orang kepada Kristus melalui cara kita bekerja.

Mari kita lihat kehidupan Ezra dalam perjanjian lama dan bagaimana pekerjaannya dapat menjadi sebuah mimbar bagi penggenapan tujuan Tuhan dalam hidupnya.

Nehemia 8:5a, 6 & 7
5a Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu.
6 Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri.
7 Lalu Ezra memuji Tuhan, Allah yang besar, dan semua orang menyambut dengan: “Amin, amin!”, sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada Tuhan dengan muka sampai ke tanah.

Dengan berbagai cara, pada akhirnya tembok Yerusalem berhasil dibangun. Pada awalnya bangsa Yahudi menghadapi keputusasaan, tantangan dan masa-masa sulit. Tetapi sekarang mereka berhasil masuk dalam permulaan baru. Inilah saatnya untuk merayakan. Ezra berdiri di atas sebuah mimbar dan membaca tentang hukum-hukum Musa (Nehemia 8:11). Ezra memuji Tuhan dan semua orang mengangkat tangan mereka dan berdiri sambil berkata “Amin, Amin!”, lalu mereka menundukkan kepala mereka dan menyembah Tuhan dengan muka sampai ke tanah.

Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa dan sangat mengharukan! Mimbar kayu yang digunakan Ezra bukanlah mimbar biasa. Tetapi itu dibuat secara khusus untuk perayaan. Mimbar itu bukan sekedar bertujuan untuk menarik perhatian semua orang, melalui mimbar tersebut tujuan Tuhan dapat digenapi.

Ezra 7:6a
Ezra ini berangkat pulang dari Babel. Ia adalah seorang ahli kitab, mahir dalam Taurat Musa yang diberikan Tuhan, Allah Israel.

Ezra adalah seorang ahli kitab, guru yang mahir dalam taurat Musa. Kata ‘guru’ disini diterjemahkan sebagai “soper”, sebuah kata yang luas yang bermakna “pencatat, ahli kitab, sekretaris atau penulis”. Ezra dipanggil sebagai seorang guru (“soper”) sebanyak empat kali dalam kitab Ezra. Ezra dipanggil sebagai “Ezra sang ahli kitab” sebanyak enam kali dalam buku Nehemia, sebab tangan Tuhan Allahnya ada diatasnya.

Ezra 7:9b-10 (New Internasional Version)
9b Oleh karena tangan murah Allahnya itu melindungi dia.
10 Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.

Tangan Tuhan ada di atas Ezra sebab dia me-ngabdikan seluruh hidupnya untuk mempelajari hukum-hukum Tuhan, melakukan dan mengajarkan hukum-hukum itu kepada bangsa Israel. “Mengabdikan diri” secara harafiah memiliki arti menetapkan hati sepenuhnya kepada sesuatu. Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa Ezra dari dalam hati telah berketetapan untuk melakukan ketiga hal tersebut tidak peduli apapun yang terjadi. Hal ini tercermin dari kehidupannya, dia adalah alat yang mempengaruhi kehidupan orang lain. Saya percaya bahwa ini adalah kunci dari sebuah pelayanan maupun pekerjaan yang berhasil.

Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri. Kepada apakah telah kita tetapkan hati kita? Apakah itu untuk sebuah kehidupan yang lebih baik, menghasilkan lebih banyak uang, menjadi terkenal, sukses dalam meniti tangga karier, menggenapi rencana pribadi kita, dll? Banyak orang Kristen bersedia hidup bagi Tuhan dan menetapkan hati untuk melakukan ketiga hal yang Ezra lakukan hanya ketika apa yang mereka rencanakan berjalan dengan baik, ketika mereka dalam kondisi yang mereka inginkan, ketika doa-doa mereka dijawab oleh Tuhan. Namun ketika apa yang terjadi merupakan kebalikan dari itu semua, mereka cenderung menjadi tidak pasti atau kurang berketetapan hati serta kurang berminat untuk mempelajari firman Tuhan bahkan untuk membaca firman Tuhan. Mereka mentaati Tuhan dan firman-Nya hanya pada saat segala sesuatunya nyaman dan menguntungkan diri mereka. Jika demikian, bagaimana mereka dapat mengajarkan firman Tuhan secara efektif? Bagaimana hidup mereka bisa menjadi contoh bagi orang lain? Bagaimana mereka bisa menjadi efektif dalam dunia usaha melalui pekerjaan yang Tuhan berikan kepada mereka?
Dengan melihat teladan Ezra, kita menyadari bahwa pekerjaan kita dapat menjadi mimbar untuk Tuhan.

Mimbar Untuk Suatu Tujuan
Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa usaha, pekerjaan, pelayanan, segala sesuatu yang kita anggap remeh ini adalah mimbar-mimbar yang dapat Tuhan gunakan untuk memenuhi tujuan-Nya.

Ezra mengajukan permohonan kepada raja Persia dan raja Persia memenuhi permohonannya tersebut (Ezra 7:6b).

Ezra memiliki reputasi yang sangat baik dihadapan raja dan di tengah-tengah masyarakat, dapat dipercaya dan benar dalam setiap perbuatannya. Saya yakin bahwa raja telah mencari informasi ataupun memeriksa latar belakangnya sebelum raja menyetujui permintaan Ezra.

Dalam Ezra 7:13-26 dapat kita baca rincian surat yang berasal dari raja Artahsasta. Di sana tertulis daftar kebebasan tertentu yang diperoleh ketika umat Israel berjalan untuk menetap di Israel. Raja mengijinkan mereka pergi ke Yerusalem (ayat 13b). Raja memberikan mereka perak dan emas untuk dibawa serta dan mengijinkan mereka untuk mengambil lebih banyak lagi di Babilonia (ayat 15-16, 20). Dia berkata bahwa bangsa Israel diperbolehkan untuk mempersembahkan persembahan diatas mezbah rumah Tuhan di Yerusalem (ayat 17b). Mereka juga diberikan kebebasan untuk membuat keputusan sendiri (ayat 18). Mereka diperbolehkan untuk mengambil kembali segala macam barang yang telah diberikan kepada mereka bagi rumah Tuhan (ayat 19a-20a) dan apapun yang mereka butuhkan untuk rumah Tuhan akan dibayarkan dari perbendaharaan kerajaan (ayat 20b). Selain itu mereka juga diperbolehkan untuk meminta segala kebutuhan yang lain bagi rumah Tuhan sampai kepada jumlah tertentu (ayat 21 & 22). Jumlahnya sangat-sangat besar.

Raja bahkan mengatakan “Segala sesuatu yang berdasarkan perintah Allah semesta langit, harus dilaksanakannya dengan tekun untuk keperluan rumah Allah semesta langit” (ayat 23). Para imam dan orang-orang Lewi tidak dikenakan pajak (ayat 24) dan Ezra diberikan tanggung jawab untuk memutuskan hukuman dan mengajar hukum-hukum Allah pada orang-orang Yahudi (ayat 25).

Sudah pasti tangan Tuhan di atas semua kejadian-kejadian ini. Bahkan saat raja mengabulkan permohonan Ezra, dia mengetahui pekerjaan dan reputasi Ezra.

Kita semua tahu bahwa untuk membangun sebuah reputasi yang baik kita harus menjadi orang-orang yang memiliki integritas. Dalam pekerjaan anda sebagai guru, dokter, perawat, pembantu rumah tangga, pengusaha, misionaris, pendeta, pelajar, ibu rumah tangga, reputasi apakah yang anda miliki? Sekarang anda harus bertanya kepada diri anda sendiri, apakah saya adalah seseorang yang negatif? Apakah kata-kata saya sangat kasar dan penuh dengan kepahitan? Apakah saya seringkali tidak menghormati orang lain? Apakah saya suka memfitnah? Apakah saya kasar terhadap atasan saya, terhadap suami atau istri saya? Apapun yang sudah anda lakukan, menjadi contoh yang baik atau buruk, anda sedang membangun reputasi diri anda sendiri. Apakah orang-orang mengenal anda sebagai seorang yang bermartabat, seorang yang jujur, bertanggung jawab, dapat dipercaya dan teguh dalam imannya?

Pekerjaan atau pelayanan Ezra yang diterangi oleh reputasinya yang baik merupakan mimbar untuk suatu tujuan. Dalam kisah Ezra, Tuhan memakai posisi Ezra untuk membawa dia dan seluruh bangsa Yahudi untuk kembali ke Israel.

Kita bukanlah Ezra. Tetapi hal tersebut tidak menjadi alasan untuk kita menaruh batasan seperti apakah mimbar kita nantinya. Jika anda adalah seorang orang tua, ini adalah sebuah mimbar untuk anda mengajarkan dan memberikan pengertian kepada anak-anak anda tentang jalan-jalan Tuhan. Tetapi jika anda melihat peran itu sebagai sebuah beban, maka akan sulit sekali bagi anda untuk mengenali peran tersebut sebagai sebuah mimbar. Selanjutnya hati anda akan menjadi dingin karena telah kehilangan tujuan dalam aspek kehidupan anda.

Jadi, apapun bidang pekerjaan anda, hal ini dapat menjadi sebuah mimbar Tuhan untuk penggenapan tujuan-Nya.

Mimbar bagi Peningkatan
Tuhan dapat memakai mimbar kita untuk meningkatkan kita melalui tantangan-tantangan yang kita hadapi, dengan mengembangkan dan meregangkan iman kita serta membangun karakter-Nya dalam kita. Sehingga saat kita berada di mimbar, kita memperoleh kesempatan untuk mempengaruhi orang lain.

Nehemia 8:6a
Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu.

Semua orang dapat melihat Ezra karena dia berdiri di mimbar dan dia berdiri lebih tinggi daripada semua orang. Apakah anda “berdiri lebih tinggi” dari semua orang di atas mimbar anda? Hal ini bukan berbicara mengenai “berdiri lebih tinggi” secara harafiah. Bukan juga berarti kita lebih jangkung dari orang lain, menjadi seorang bos, direktur, pemimpin ataupun pendeta, melainkan berdiri di mimbar di mana pesan anda dapat terdengar. Allah ingin memberikan kita sebuah mimbar untuk meningkatkan kita sehingga ketika hidup kita diangkat, kita dapat ‘berkhotbah’ melalui kata-kata, tindakan, gaya hidup, maupun keputusan kita. “Berdiri lebih tinggi” akan mempertontonkan sikap kita, bagaimana kita menanggapi sebuah situasi, pendirian, tingkah laku kita, dll.

Di dalam Alkitab kita tahu bahwa Yusuf dijual kepada orang Mesir sebagai budak dan jadi orang tahanan selama 12 tahun. Dari seorang budak yang tidak berarti menjadi seorang pemimpin utama – Yusuf menjadi seorang gubernur. Siapa yang mengira bahwa dia akan menjadi gubernur Mesir? Seperti Yusuf, Tuhan juga ingin mengangkat kita jika kita memutuskan untuk tidak mengkompromikan iman.

Kita telah membaca cerita mengenai Yusuf berulang kali dan hafal indahnya akhir cerita kehidupan Yusuf. Tetapi Yusuf sendiri tidak pernah mengira bahwa suatu hari kelak ia akan menjadi gubernur Mesir kala dengan tabah ia menjalani kesukaran yang tidak diharapkannya. Kita yang membaca tentang cerita hidupnya dapat memahami bahwa tangan Allah dan perkenanan Allah ada di atas Yusuf. Tetapi jika kita berada dalam posisi Yusuf mampukah kita bersikap sama seperti Yusuf dan tetap tabah mengadapi situasi yang sama? Banyak dari kita berpikir bahwa tidak masalah untuk kompromi sekali-kali karena perkenanan Allah ada dalam hidup kita. Tetapi Yusuf, meskipun dia memiliki kesempatan untuk kompromi, mengeluh, menjelekkan orang lain, bertindak keji dan tidak mengampuni, tetap tabah menghadapi tekanan demi tekanan. Caranya menanggapi hal-hal tersebut adalah sebuah teladan yang mulia. Perhatikan apa jawaban Yusuf setelah kakak-kakaknya yang telah menjualnya sebagai budak minta pengampunan darinya:

Kejadian 5:20
“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakan untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

Apapun niat jahat orang terhadap kita, situasi-situasi yang harus kita tempuh, Tuhan akan memutarbalikkan semuanya menjadi kebaikan bagi kita asalkan kita tetap berdiri teguh di mimbar yang telah diberikan-Nya kepada kita. Kita tidak perlu memakai kembali cara-cara dunia ketika seseorang melontarkan tuduhan palsu, mengkhianati, menipu, melupakan kebaikan-kebaikan kita, membenci dan memperlakukan kita dengan salah.

Mimbar Untuk Menjadi Dampak
Ketika anda berada di mimbar anda, maksimalkan peran anda, anda memiliki banyak kesempatan untuk mempengaruhi kehidupan orang lain. Dengan kuasa Roh Kudus yang menguatkan anda, anda dapat melakukan banyak hal jauh melebihi apa yang orang bisa harapkan. Di mimbar tersebut, kehidupan anda dipamerkan. Ketika orang-orang menyaksikan kehidupan anda apakah mereka merasa dijamah, digerakkan dan diubahkan oleh apa yang mereka lihat? Apakah mereka kemudian sujud dan menyembah Tuhan? Apakah mereka mengakui bahwa anda berbeda dari yang lain, apakah mereka bisa merasakan hadirat Tuhan menjamah hati mereka?

Sama seperti banyak tokoh dalam Alkitab – mulai dari Rahab si pelacur sampai kepada rasul-rasul, kita dapat mempengaruhi orang lain.
Kita mungkin akan menghadapi penentangan tetapi marilah kita percaya bahwa kita akan menyaksikan kasih setia Tuhan. Janganlah menjadi “penuduh saudara-saudara seiman”. Pasti akan selalu ada orang yang akan berbicara tentang kita. Jika kita menjadi panas hati dan membalas mereka, maka kita telah menurunkan derajat kita menjadi sama seperti mereka. Janganlah kita turun ke tingkat dimana “penuduh saudara-saudara seiman” kita berada.

Dalam Nehemia 6, Nehemia si pembawa minuman raja di kerajaan Persia memiliki tugas untuk membangun kembali tembok Yerusalem yang telah runtuh. Musuh-musuhnya berusaha untuk mengacaukannya dengan mengajak Nehemia untuk menghadiri pertemuan di lembah Ono. Tetapi Nehemia mengirimkan utusan dan berkata, “Aku tengah melakukan suatu pekerjaan yang besar. Aku tidak bisa datang! Untuk apa pekerjaan ini terhenti oleh sebab aku meninggalkannya dan pergi kepada kamu!” (Nehemia 6:3). Musuh-musuhnya memaksa Nehemia dan memohon untuk bertemu dengannya sebanyak empat kali. Tetapi Nehemia tetap pada pendiriannya.

Jika kita menyadari pekerjaan besar yang Allah miliki bagi hidup kita, kita tidak akan dikacaukan oleh orang-orang yang mempengaruhi kita untuk kompromi. Kita akan tetap fokus dan tidak mengijinkan kata-kata orang menghentikan kita dari melakukan apa yang Tuhan inginkan. Jika kita berhenti maka musuh akan bergembira. Jangan biarkan perkataan-perkataan sinis mengacaukan kita dalam menggenapi tujuan Tuhan bagi hidup kita. Kitalah yang memutuskan apakah kita dapat terpengaruh dan marah. Tolaklah untuk turun pada derajat yang sama dengan sikap dan pola pikir mereka. Tetaplah fokus pada panggilan Tuhan dalam hidup kita. Di tengah semuanya ini biarlah Tuhan dipermuliakan dalam hidup kita dan kita akan memberikan pengaruh kepada orang lain.

Jangan biarkan masalah, pengkhianatan, penghinaan, dll menyebabkan kita menyerah kepada keadaan, sehingga kita kehilangan fokus di dalam Tuhan, iman kita tergoncang dan undur dari keterikatan kita kepada Tuhan. Setialah dengan yang telah Tuhan berikan kepada kita. Sama seperti para pejuang-pejuang iman, yang telah memberikan pengaruh kepada hidup banyak orang. Kita pun dapat memakai mimbar kita untuk mempengaruhi kehidupan orang lain. Kehidupan kita berpotensi untuk memperkuat pesan yang kita yakini atau bisa juga berlawanan balik dengan setiap pesan yang baru saja kita khotbahkan, membuat khotbah kita tidak berguna sama sekali.

Mimbar Untuk Kemuliaan Tuhan
Ketika Tuhan meninggikan anda, ketika anda melewati ujian dengan tabah tanpa kompromi, ketika anda bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, ketika anda tidak menyerah, tetapi menunjukkan penundukkan diri ketika menghadapi ketidakadilan, Dia dimuliakan. Orang-orang akan melihat bahwa bukan karena andalah anda mampu melewati semua itu tetapi semua karena Tuhan.

Banyak orang tidak menyadari betapa pentingnya mimbar yang Tuhan berikan sehingga mereka tidak menggunakan apa yang mereka miliki untuk kemuliaan Tuhan. Menjadi seorang usahawan yang baik, pelajar yang baik, guru yang baik, pendeta yang luar biasa, orang tua yang luar biasa yang membesarkan anak-anaknya dalam jalan Tuhan – segala macam pekerjaan yang mendatangkan reputasi baik adalah sebuah mimbar, tempat kita dapat mencerminkan karakter-karakter Ilahi dan menggenapi tujuan-Nya. Jika kita tahu bahwa kita memiliki sebuah mimbar maka kita akan hidup dalam hidup yang penuh tujuan, bukan tanpa tujuan, tetapi yang tujuannya adalah untuk menyatakan Tuhan dalam segala sesuatu. Tuhan ingin memakai mimbar kita, sehingga kemudian Tuhan yang dimuliakan.

Kesimpulan
Tuhan telah menyediakan sebuah mimbar bagi anda. Janganlah anda berharap untuk berada di mimbar orang lain. Terutama jika anda melihat bagaimana Tuhan dapat memakai orang tersebut. Puaslah dengan mimbar anda sendiri.

Ketika anda berada di mimbar anda, uruslah ‘naskah’ anda sendiri, hafalkan setiap kata dalam naskah tersebut, persiapkan peran anda dengan baik dan tetaplah fokus. Jangan terlalu memusingkan tentang orang lain. “Bagaimana dengan dia?” Mengapa dia tetap sukses meskipun terkadang tidak taat?” Ketika Yesus berkata kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya, Petrus bertanya, bagaimana dengan Yohanes. Yesus berkata, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.” (Yohanes 21:22). Dengan kata lain, anda harus memperhatikan bagaimana anda dapat memenuhi rancangan-Nya bagi hidup anda, dan agar menjadi efektif di mimbar anda sendiri. Tuhan telah menuliskan sebuah naskah, sebuah rancangan bagi kehidupan anda. Bacalah apa yang firman Tuhan katakan mengenai anda. Jika anda melakukannya maka anda akan menyadari bahwa anda memiliki sebuah mimbar sehingga anda akan memusatkan perhatian kepada mimbar anda sendiri dan tidak akan iri terhadap orang lain.

Ketika kita berada di mimbar, orang-orang akan menonton kita dan menunggu kapan kita akan membuat kesalahan. Jangan biarkan pandangan orang lain menekan dan membuat kita takut terhadap kritik. Kita adalah anak-anak Allah dan kita hidup oleh firman-Nya. Benar, kita melakukan kesalahan namun jangan biarkan orang lain mempengaruhi kita sehingga kita kehilangan kepercayaan diri dalam Tuhan sehingga membuat kita meragukan kemampuan dan usaha kita. Pastikan kita memusatkan perhatian terhadap panggilan kita.

Mimbar telah diberikan kepada setiap orang. Perhatikan mimbar yang kita miliki. Biarlah doa, merenungkan firman Tuhan, terikat kepada Tuhan serta melakukan firman-Nya menjadi persiapan kita sebelum menaiki mimbar untuk kemudian membacakan naskah kehidupan di mimbar yang sama. Selalu setia dalam melakukan segala sesuatu dan tidak tergoyahkan oleh apapun sehingga reputasi yang baik mengikuti langkah kehidupan kita. Tuhan pun bangga dan Ia dimuliakan melalui mimbar kehidupan kita.